Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Wakajati Riau Narasumber Dialog Kebangsaan di UNILAK

Hen
Senin, 19 Sep 2022 04:36 WIB | dilihat: 53 kali

AmanatRakyat.com (PEKANBARU) - Bahwa pada hari Senin tanggal 19 September 2022 sekira pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai,

Bertempat di Aula Pustaka Unilak, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Akmal Abbas, SH., MH

menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Kebangsaan dengan Tema “Restorative Justice Sebagai

Jalan Menuju Keadilan Dalam Masyarakat Terkait Penyelesaian Hukum Di Provinsi Riau”.

Hadir dalam kegiatan tersebut yaitu : Kapolda Riau yang diwakili oleh Reskrimsus Polda Riau

Kombes Pol Ferry Irawan, Dekan Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning Dr. Fahmi, SH.,

MH, Anggota DPR RI Effendi Sianipar, Badan Eksekutif Mahasiswa Unilak.

Dalam kegiatan Dialog Kebangsaan ini, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Akmal Abbas, SH.,

MH menyampaikan bahwa Pendekatan Restorative Justice merupakan pendekatan dalam

penyelesaian masalah yang menekankan pada pemulihan kerugian korban dan pemulihan hubungan

antara pelaku dengan korban serta komunitasnya masing-masing.

Selanjutnya Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Akmal Abbas, SH., MH menjelaskan Pengertian

dan Tujuan Pelaksanaan Restorative Justice menurut Peraturan Kejaksaan RI No.15 Tahun 2020

bahwa Keadilan Restorative adalah penyelesaan perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku,

korban, keluarga pelaku/keluarga korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari

penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan

pembalasan.

Selanjutnya Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau juga menjelaskan asas pelaksanan Restorative

Justice adalah keadilan, kepentingan umum, proporsionalitas, pidana sebagai jalan terakhir serta

cepat, sederhana dan biaya ringan.

Dan selanjutnya Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Akmal Abbas, SH., MH menyampaikan

syarat-syarat penerapan Restorative Justice yaitu tersangka baru pertamakali melakukan tindak

pidana, tindak pidana hanya diancam dengan pidana denda atau diancam dengan pidana penjara

tidak lebih dari 5(lima) tahun dan tindak pidana dipidana dilakukan dengan nilai barang bukti atau

nilai kerugian yang ditimbulkan akibat dari tindak pidana tidak lebih dari Rp 2.500.000,00 (dua juta

lima ratus ribu rupiah).

Pertimbangan penerapan Restorative Justice diantaranya adalah subjek, objek, kategori dan ancaman

tindak pidana; latar belakang terjadinya/dilakukannya tindak pidana; tingkat ketercelaan; kerugian

atau akibat yang ditimbulkan dari tindak pidana; cost and benefit penanganan perkara; pemulihan

kembali pada keadaan semula; dan adanya perdamaian antara korban dan tersangka.

Dan selanjutnya juga Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Akmal Abbas, SH., MH menyampaikan

saat ini Kejaksaan Tinggi Riau sudah menyelelesaikan 37 (Tiga Puluh Tujuh) perkara/kasus dengan

pendekatan Restorative Justice. Restorative Justice yang utama bukan perdamaian, namun esensi

Restorative Justice adalah pemulihan. Pemulihan bagi korban, pelaku maupun masyarakat.

Dalam kegiatan dialog kebangsaan di Universitas Lancang Kuning tersebut mengikuti secara ketat

protokol kesehatan (prokes).*(Hen)



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © PT. Tuah Melayu Pers
All right reserved